MENITNEWS.COM, MAKASSAR — Andi Iwan Darmawan Aras kembali dipercaya memimpin Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Sulawesi Selatan (Sulsel) untuk periode 2026–2031.
Terpilihnya kembali Andi Iwan dinilai menjadi momentum strategis untuk memperkuat peran dunia usaha dalam mendorong investasi, mempercepat pembangunan, serta meningkatkan daya saing ekonomi daerah.
Penilaian tersebut disampaikan akademisi dan praktisi kebijakan publik, Dr. Achmad Risa Mediansyah, M.Si., yang menilai keberlanjutan kepemimpinan Andi Iwan memiliki arti penting di tengah meningkatnya kebutuhan sinergi antara sektor usaha dan pemerintah.
Menurut Risa, tantangan pembangunan saat ini menuntut hadirnya kolaborasi yang lebih kuat guna menciptakan iklim investasi yang kompetitif, adaptif, dan berkelanjutan.
“Organisasi seperti KADIN memiliki posisi strategis karena berada pada titik temu antara kebijakan dan aktivitas ekonomi. Kepemimpinan yang memiliki kapasitas konsolidasi serta jejaring yang kuat berpotensi mempercepat lahirnya dampak pembangunan yang lebih nyata,” ujar Risa, Ahad (14/6/2026).
Selain menjabat Ketua KADIN Sulsel, Andi Iwan juga mengemban amanah sebagai Ketua DPD Gerindra Sulawesi Selatan dan Wakil Ketua Komisi V DPR RI.
Menurut Risa, pengalaman yang dimiliki Andi Iwan di bidang organisasi, politik, dan kebijakan menjadi modal penting untuk memperkuat konektivitas antara pelaku usaha, pemerintah, dan agenda pembangunan di tingkat daerah maupun nasional.

Ia menilai peran KADIN Sulsel saat ini tidak lagi sebatas organisasi representasi pelaku usaha. KADIN dinilai semakin berperan sebagai penghubung strategis antara kepentingan dunia usaha, investasi, dan arah kebijakan pembangunan.
Dalam perspektif jejaring kebijakan (policy network), efektivitas pembangunan modern sangat ditentukan oleh kemampuan menghadirkan koordinasi, membangun kolaborasi, dan menyatukan berbagai kepentingan menjadi agenda bersama.
Risa menegaskan pengalaman Andi Iwan dapat memperkuat posisi KADIN Sulsel sebagai jembatan antara investasi, pengembangan pelaku usaha lokal, dan kebutuhan pembangunan ekonomi daerah.
Ia juga menilai periode kedua kepemimpinan dalam organisasi strategis biasanya menjadi fase untuk mengoptimalkan modal jejaring, pengalaman kelembagaan, dan kapasitas konsolidasi menjadi hasil yang lebih konkret.
“Periode kedua bukan lagi fase membangun fondasi, melainkan fase menghadirkan hasil. Ukurannya adalah sejauh mana organisasi mampu mendorong investasi riil, memperluas kemitraan usaha, memperkuat pelaku usaha daerah, dan menciptakan manfaat ekonomi yang dirasakan lebih luas,” katanya.
Lebih lanjut, Risa menilai apabila momentum tersebut dapat dikonsolidasikan secara optimal, KADIN Sulsel berpeluang memperkuat posisinya tidak hanya sebagai rumah besar dunia usaha, tetapi juga sebagai institusi strategis yang berkontribusi dalam transformasi ekonomi daerah.
“Ketika organisasi (KADIN Sulsel) mampu bergerak melampaui fungsi representatif dan masuk pada penguatan kolaborasi pembangunan, maka perannya akan semakin besar dalam menciptakan ekosistem ekonomi yang produktif, kompetitif, dan berdaya saing,” tutupnya. (*)
Comment