Bukan Hanya Rokok, Makanan Olahan Ternyata Tingkatkan Risiko Kanker Paru Hingga 41 Persen

Ilustrasi paru-paru. Foto: Getty Images/iStockphoto/sittithat tangwitthayaphum/detik.com

ads
ads
ads

JAKARTA, MENITNEWS.COM – Selama ini, kanker paru-paru selalu identik dengan kebiasaan merokok atau paparan polusi udara yang ekstrem. Namun, penelitian terbaru mengungkapkan fakta mengejutkan: pola makan sehari-hari, khususnya konsumsi makanan olahan, memiliki peran besar dalam memicu penyakit mematikan ini.

Penting bagi masyarakat untuk mulai memilah asupan nutrisi demi menjaga kesehatan pernapasan jangka panjang.

Bahaya Tersembunyi di Balik Makanan Ultra-Processed

Istilah Ultra-Processed Food (UPF) kini menjadi sorotan para ahli kesehatan. Berdasarkan laporan CNN, UPF adalah jenis makanan yang telah melalui proses pabrikasi panjang dan mengandung banyak bahan tambahan kimia.

Beberapa contoh makanan yang masuk dalam kategori ini antara lain:

  • Minuman ringan: Soda dan minuman berenergi.

  • Camilan instan: Keripik, biskuit, dan es krim.

  • Daging olahan: Nugget ayam, sosis, dan kornet.

Produk-produk ini umumnya mengandung pengawet buatan untuk mencegah jamur, pewarna sintetik, serta rekayasa kadar gula dan lemak trans agar memiliki rasa yang memicu ketagihan.

Temuan Riset: Risiko yang Signifikan

Sebuah studi komprehensif yang diterbitkan dalam jurnal kesehatan Thorax menunjukkan kaitan erat antara pola makan dan kanker paru. Hasil riset tersebut mengungkapkan bahwa individu yang paling banyak mengonsumsi makanan olahan memiliki risiko 41 persen lebih tinggi terkena kanker paru dibandingkan mereka yang jarang mengonsumsinya.

“Studi ini menunjukkan dengan sangat jelas bahwa UPF berkontribusi nyata pada risiko kanker paru-paru,” ujar Dr. David Katz, pendiri True Health Initiative, dikutip dari detik.com.

Mengapa Pola Makan Memengaruhi Paru-Paru?

Mungkin muncul pertanyaan: bagaimana apa yang kita makan bisa merusak organ pernapasan? Para ahli menjelaskan tiga jalur utama kerusakan tersebut:

  1. Peradangan dan Imunitas: Konsumsi gula dan lemak jenuh yang tinggi memicu peradangan kronis di dalam tubuh. Kondisi ini merusak mikrobioma (bakteri baik) yang bertugas menjaga sistem kekebalan tubuh.

  2. Zat Aditif Karsinogenik: Fang Fang Zhang, pakar epidemiologi nutrisi dari Tufts University, menjelaskan bahwa zat aditif atau bahan kimia yang terbentuk selama pemrosesan makanan bisa bersifat karsinogen (pemicu kanker).

  3. Migrasi Kimia Kemasan: Bahan kimia dari plastik atau kaleng kemasan makanan juga dicurigai dapat meresap ke dalam makanan dan masuk ke sistem tubuh manusia.

“Kombinasi peradangan berlebihan dan gangguan imun memberi keuntungan bagi sel-sel jahat untuk berkembang. Inilah awal mula terbentuknya kanker,” tegas Dr. David Katz.

Kesimpulan dan Langkah Preventif

Meski penelitian mengenai jalur biologis pastinya masih terus dikembangkan, para ahli sepakat bahwa mengurangi konsumsi makanan instan adalah langkah wajib. Mengganti asupan dengan makanan utuh (whole foods) seperti buah-buahan, sayuran, dan protein segar dapat menjadi perisai tambahan bagi kesehatan paru-paru Anda. (*)

Comment