MENITNEWS.COM, MAKASSAR — PT Pupuk Indonesia (Persero) berkomitmen penuh menjaga ketahanan pangan nasional, dengan memastikan ketersediaan alokasi pupuk bersubsidi pada tahun 2026.
Melalui integrasi teknologi digital dan penguatan infrastruktur distribusi, holding produsen pupuk terbesar di Indonesia ini, siap menyalurkan jutaan ton pupuk kepada petani dan petambak yang berhak.
Berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor 1360 Tahun 2025, total alokasi pupuk subsidi untuk sektor pertanian pada tahun 2026 mencapai 9.550.000 ton. Jumlah tersebut terdiri dari Urea: 4.423.023 ton, NPK: 4.471.026 ton, NPK Kakao: 81.179 ton, Organik: 558.273 ton dan ZA: 16.449 ton.
Tidak hanya sektor pertanian, sektor perikanan juga mendapatkan jatah subsidi sebesar 295.676 ton (Urea, Organik, dan SP-36) yang diperuntukkan bagi pembudidaya ikan bandeng, nila, mas, udang, hingga lele.
Guna memastikan pupuk jatuh ke tangan yang tepat, Pupuk Indonesia mengandalkan aplikasi i-Pubers. Melalui sistem ini, petani cukup menggunakan KTP untuk melakukan penebusan. Seluruh transaksi tercatat secara otomatis dan berbasis NIK, sehingga memperkecil risiko penyimpangan di lapangan.
Selain itu, operasional distribusi Pupuk Indonesia dipantau secara real-time melalui Command Center di Jakarta. Fasilitas ini memonitor pergerakan pupuk dari pabrik hingga ke kios (Lini IV) menggunakan sistem Distribution Planning & Control System (DPCS).
Dalam acara Media Gathering PT Pupuk Indonesia Regional 4 di Kawasan CPI Kota Makassar, pada Rabu (22/04/2026), GM Regional 4 PT Pupuk Indonesia (Persero), Wisnu Ramadhani, menekankan pentingnya sinergi dalam pengawasan distribusi.
”Kami di Regional 4 terus memastikan bahwa setiap butir pupuk subsidi sampai kepada petani yang terdaftar dalam e-RDKK sesuai regulasi yang berlaku,” tuturnya.
“Dengan dukungan 501 gudang nasional dan sistem digital seperti i-Pubers, kami optimis penyaluran di tahun 2026 akan jauh lebih tepat sasaran, transparan, dan akuntabel demi mendukung swasembada pangan nasional,” tambah Wisnu Ramadhani.
Hingga saat ini, Pupuk Indonesia memiliki kapasitas produksi total mencapai 14,8 juta ton per tahun. Untuk mengantisipasi kebutuhan masa depan, perusahaan tengah menggarap 7 proyek revitalisasi pabrik, di antaranya:
Pabrik Pusri III-B di Palembang (Target 2027).
Pabrik Amurea PIM-III di Lhokseumawe (Target 2029).
Pabrik Soda Ash dan Revamping Amonia di Kalimantan Timur.
Langkah strategis Pupuk Indonesia ini, diharapkan mampu menekan ketergantungan impor dan memperkuat posisi Indonesia sebagai pemain utama industri pupuk di Asia Tenggara. (*)
Comment