Pisang Tanduk Gebyar Batang Didorong Jadi Sentra Benih Nasional, HDDAP Perkuat Agribisnis Hortikultura

ads
ads
ads

MENITNEWS.COM, BATANG — Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian RU, bersama tim Horticulture Development in Dryland Areas Project (HDDAP), mendorong pengembangan Pisang Tanduk Gebyar.

Ini sebagai komoditas unggulan nasional, melalui penguatan perbanyakan benih dan optimalisasi Balai Benih Hortikultura (BBH) Clapar di Desa Celapar, Kecamatan Subah, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, baru-baru ini.

Langkah strategis ini dilakukan untuk memperkuat agribisnis hortikultura, meningkatkan pendapatan petani, menjaga keberlanjutan plasma nutfah lokal, serta memenuhi kebutuhan benih unggul di kawasan lahan kering di berbagai wilayah Indonesia.

Pisang Tanduk Gebyar merupakan varietas khas Kabupaten Batang yang memiliki nilai ekonomi tinggi dengan pasar nasional yang stabil.

Komoditas ini dikenal memiliki ukuran buah besar, daging padat, rasa manis, serta banyak diminati sebagai bahan baku olahan, terutama pisang goreng.

Pengembangan varietas tersebut didukung keberadaan BBH Clapar yang berdiri di atas lahan seluas sekitar 8,3 hektare.

Kawasan ini menjadi pusat sumber pohon induk berbagai tanaman hortikultura unggulan bersertifikat, seperti pisang, kelengkeng, durian, jeruk, manggis, hingga rambutan.

Direktur Hilirisasi Hasil Hortikultura sekaligus Project Director HDDAP, Freddy Lumban Gaol, menegaskan bahwa balai benih memiliki peran penting dalam mendukung pengembangan agribisnis hortikultura nasional.

“Dari lokasi inilah sumber benih asli Pisang Tanduk Gebyar dikembangkan dan telah tersebar ke berbagai daerah di Indonesia. Ke depan, melalui proyek HDDAP, perbanyakan benih akan diperluas melalui penangkar lokal untuk memenuhi kebutuhan petani peserta program pengembangan hortikultura lahan kering,” ujar Freddy saat kunjungan ke BBH Clapar.

Ia menambahkan, pengembangan Pisang Tanduk Gebyar diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan petani, memperkuat ketahanan pangan daerah, serta menjaga keberlanjutan komoditas lokal unggulan yang menjadi kebanggaan masyarakat Batang dan Jawa Tengah.

Sementara itu, Kepala Dinas Pangan dan Pertanian Kabupaten Batang, Sutadi Ronodipuro, menyebut keberhasilan pengelolaan pohon induk hingga menjadi benih bersertifikat merupakan hasil pembinaan berkelanjutan selama bertahun-tahun.

“Pisang Tanduk Gebyar menjadi varietas unggulan karena memiliki mutu buah yang baik dan relatif tahan terhadap penyakit layu Fusarium, sehingga prospeknya sangat kuat sebagai aset hortikultura nasional,” jelasnya.

Hal serupa disampaikan Cultivation Specialist HDDAP, Dwi Iswari. Ia menilai Pisang Tanduk Gebyar memiliki keunggulan dari sisi ketahanan penyakit, ukuran buah, serta kepastian pasar.

“Selain tahan penyakit, ukuran buahnya lebih besar dibandingkan jenis pisang tanduk lainnya. Pasarnya juga sudah terbentuk dan permintaannya terus meningkat,” ujar Dwi.

Kunjungan tersebut juga menegaskan,  pentingnya penguatan kapasitas balai benih sebagai pusat pengembangan benih unggul hortikultura.

Selain mendukung implementasi HDDAP, BBH Clapar dinilai berpotensi dikembangkan sebagai kawasan agroeduwisata berbasis hortikultura, guna memperkuat posisi Kabupaten Batang sebagai sentra sumber benih tanaman buah unggulan nasional. (*)

Comment