MENITNEWS.COM, MAKASSAR — Universitas Hasanuddin (Unhas) kembali memperkuat jajaran akademisinya dengan mengukuhkan empat guru besar baru dari Fakultas Ilmu Budaya (FIB) dan Fakultas Teknologi Pertanian (FTP). Pengukuhan ini digelar dalam Rapat Paripurna Senat Akademik terbatas di Ruang Senat Akademik Unhas, Lantai 2 Gedung Rektorat, Kampus Tamalanrea, Makassar, Senin (25/5).
Acara prosesi upacara Penerimaan Jabatan Profesor ini berlangsung khidmat sejak pukul 08.30 WITA. Selain dihadiri secara luring oleh sivitas akademika dan keluarga besar, jalannya pengukuhan juga disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube resmi Senat Akademik Unhas agar dapat disaksikan oleh publik yang lebih luas.
Hadir langsung dalam kegiatan tersebut Rektor Unhas Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, M.Sc., bersama jajaran Ketua, Sekretaris, dan Anggota Majelis Wali Amanat, Senat Akademik, serta Dewan Profesor Unhas.
Adapun empat guru besar baru yang resmi dikukuhkan adalah:
-
Prof. Dr. Kamsinah, M.Hum. – Guru Besar Bidang Sosiopragmatik (Fakultas Ilmu Budaya).
-
Prof. Ir. Andi Nur Faidah Rahman, STP., M.Si., Ph.D. – Guru Besar Bidang Ilmu Teknologi Pengolahan Pascapanen (Fakultas Teknologi Pertanian).
-
Prof. Dr. Ir. Iqbal, STP., M.Si., IPM. – Guru Besar Bidang Alat dan Mesin Pertanian (Fakultas Teknologi Pertanian).
-
Prof. Dr. Adiansyah Syarifuddin, STP., M.Si. – Guru Besar Bidang Teknologi Pengolahan dan Pengawetan (Fakultas Teknologi Pertanian).
Riset Harus Jadi Solusi Nyata Masyarakat
Dalam sambutannya, Rektor Unhas yang akrab disapa Prof JJ memberikan apresiasi tinggi terhadap materi penelitian yang dipaparkan oleh keempat profesor baru tersebut. Namun, ia mengingatkan bahwa tantangan perguruan tinggi ke depan tidak lagi sekadar mengejar angka publikasi di atas kertas.
Prof JJ menekankan pentingnya menghadirkan riset yang tidak hanya kuat secara metodologi akademik, tetapi juga mampu memberikan dampak nyata dan menjadi solusi konkret atas berbagai tantangan yang dihadapi bangsa.
Perguruan tinggi, menurutnya, memikul tanggung jawab besar untuk melahirkan inovasi yang proaktif dan adaptif terhadap gerak zaman. Oleh karena itu, ia mendorong para guru besar dan peneliti Unhas untuk terus melahirkan kajian-kajian baru yang lebih progresif demi mendongkrak daya saing Indonesia di kancah global.
Menjaga Etika Kebahasaan di Ruang Publik

Di samping penguatan sains dan teknologi, Prof JJ juga memberikan catatan penting mengenai peran kampus sebagai benteng peradaban. Ia menegaskan bahwa Unhas harus mampu menjadi teladan dalam menjaga etika, kesantunan, dan estetika berbahasa, baik di dalam forum akademik maupun saat berinteraksi di ruang publik.
Bagi Prof JJ, keberhasilan sebuah universitas tidak melulu diukur dari capaian administratif. Kontribusi nyata dalam membentuk iklim dan budaya akademik yang bermartabat jauh lebih bernilai.
“Indonesia Emas 2045 tidak hanya membutuhkan sumber daya manusia yang unggul dan kompetitif, tetapi juga generasi yang beradab, santun, dan memiliki karakter kuat. Kampus harus menjadi contoh terbaik dalam membangun peradaban itu,” tegas Prof JJ.
Tantangan untuk Dosen Muda
Menatap masa depan, Rektor menilai indikator keberhasilan dosen ke depan akan diukur dari seberapa besar nilai guna inovasi yang mereka hasilkan bagi masyarakat luas. Kemandirian bangsa, lanjutnya, berakar dari hilirisasi produk inovasi sivitas akademika.
Di akhir arahannya, Prof JJ secara khusus memberikan perhatian pada peran dosen-dosen muda di lingkungan Unhas. Ia berharap generasi muda ini dapat menjadi motor penggerak utama kemajuan universitas.
“Kita membutuhkan dosen-dosen muda untuk bersinar, bergerak cepat, dan menghadirkan karya-karya inovatif. Unhas terus melaju dengan cepat untuk menghasilkan ekosistem akademik yang kuat, mandiri, dan berdaya saing global,” pungkasnya.
Melalui pengukuhan empat profesor baru ini, Unhas kembali menegaskan komitmennya sebagai salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia yang terus fokus pada pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, serta pencetakan SDM unggul demi menyongsong Indonesia Emas 2045. (*)
Comment