MENITNEWS.COM, MAKASSAR — Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat (Sulselbar), mencatat kinerja sektor jasa keuangan di Sulawesi Selatan (Sulsel) tetap solid dan tumbuh positif pada Triwulan I 2026.
Stabilitas yang terjaga di sektor perbankan, pasar modal, hingga Industri Keuangan Non-Bank (IKNB) ini sukses menopang momentum pertumbuhan ekonomi regional.
Pertumbuhan ekonomi Sulsel pada Triwulan I 2026 meroket di angka 6,88 persen (year-on-year/yoy). Angka ini meningkat signifikan dibandingkan periode yang sama pada tahun 2025 yang tercatat sebesar 5,78 persen (yoy).
Kepala OJK Provinsi Sulselbar, Moch. Muchlasin menyatakan bahwa, performa positif ini mencerminkan kokohnya aktivitas ekonomi masyarakat dan tingginya permintaan pembiayaan di berbagai sektor strategis.
Per Maret 2026, total aset perbankan di Sulsel tumbuh 4,12 persen (yoy) menjadi Rp213,44 triliun. Penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) juga naik 7,33 persen (yoy) menyentuh Rp147,41 triliun, yang didominasi oleh produk tabungan dengan pangsa sebesar 61,45 persen.
Di sisi intermediasi, penyaluran kredit perbankan tumbuh 5,19 persen (yoy) menjadi Rp174,39 triliun. Angka ini lebih tinggi dari pertumbuhan Maret 2025 yang hanya 3,76 persen.
Kredit konsumtif mencetak pertumbuhan tertinggi sebesar 8,00 persen (yoy), sementara kredit produktif didominasi oleh sektor perdagangan besar dan eceran dengan andil 22,00 persen.
Keamanan perbankan juga terjaga dengan rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) yang sehat di level 3,73 persen.
Lompatan luar biasa justru ditunjukkan oleh sektor Perbankan Syariah. Total aset perbankan syariah di Sulsel melesat 30,18 persen (yoy) menjadi Rp22,82 triliun.
Pembiayaan syariah bahkan tumbuh 24,16 persen (yoy) menjadi Rp18,54 triliun dengan rasio Non-Performing Financing (NPF) yang sangat rendah, yakni 1,77 persen.
Akselerasi ini membuat pangsa pasar (market share) perbankan syariah di Sulsel meningkat tajam dari kisaran 7 persen pada 2023 menjadi 10,69 persen pada Maret 2026.
Sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) tetap menjadi pilar utama penggerak ekonomi daerah.
Porsi penyaluran kredit UMKM mencapai 36,17 persen dari total kredit di Sulsel, atau setara Rp61,80 triliun per Maret 2026.
Penyaluran ini mengalir kepada 904.255 debitur dan didominasi oleh segmen usaha mikro dengan pangsa mencapai 56,88 persen. Diikuti oleh usaha kecil sebesar 28,41 persen dan usaha menengah sebesar 14,71 persen.
Beralih ke sektor pasar modal, antusiasme investasi masyarakat Sulsel menunjukkan tren yang sangat menggembirakan.
Jumlah investor atau Single Investor Identification (SID) di Sulsel melonjak 57,63 persen (yoy) mencapai 525.596 SID. Pertumbuhan tertinggi terjadi pada instrumen reksa dana yang naik sebesar 58,23 persen (yoy).
Pada sektor IKNB, kinerja pergadaian mencatat pertumbuhan pembiayaan paling fantastis, yakni sebesar 61,08 persen (yoy) menjadi Rp12,57 triliun. Industri asuransi juga bergairah dengan pertumbuhan penerimaan premi sebesar 29,90 persen (yoy) menjadi Rp984 miliar.
Tak ketinggalan, sektor fintech peer-to-peer (P2P) lending atau pinjaman online resmi terus berekspansi dengan outstanding pembiayaan mencapai Rp2,52 triliun, tumbuh signifikan 32,26 persen (yoy).
Guna mengimbangi pesatnya pertumbuhan industri keuangan, OJK Sulselbar masif melakukan edukasi. Sepanjang Januari hingga April 2026, OJK telah menggelar 137 kegiatan edukasi keuangan yang menjangkau 1.607.348 peserta di wilayah Sulsel dan Sulbar.
Selain itu, OJK mengelola 630 layanan konsumen sepanjang awal tahun ini, di mana aduan terbanyak berasal dari sektor perbankan (243 layanan) dan fintech (212 layanan). OJK juga melayani 5.853 permintaan Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) per April 2026.
Menyambut periode Mei hingga Agustus 2026, OJK resmi menggulirkan program Bulan Literasi Keuangan 2026 sebagai bagian dari Gerakan Cerdas Nasional Keuangan (GENCARKAN).
Mengusung tema “Cerdas Literasi Keuangan Digital, Hidup Sejahtera Menuju Indonesia Emas”, program ini diawali dengan kick-off edukasi oleh OJK Sulselbar kepada para pelajar di SMA Negeri 1 Makassar, untuk membangun benteng pertahanan dari bahaya aktivitas keuangan ilegal sejak dini. (*)
Comment