MENITNEWS.COM, MAKASSAR — Universitas Hasanuddin (Unhas) menjadi titik temu para akademisi, peneliti, dan mahasiswa dari berbagai negara dalam membahas tata kelola sumber daya berkelanjutan di tengah meningkatnya tekanan terhadap hutan, wilayah pesisir, dan berbagai sumber daya alam lainnya.
Pertemuan yang berlangsung di Ruang Rapat Rektor Lantai 8 Gedung Rektorat Unhas, Senin (8/6), menjadi bagian dari rangkaian persiapan menuju Pre-Conference International Association for the Study of the Commons (IASC) 2027 dan Joint Field School University of Hawai‘i.
Audiensi tersebut dihadiri delegasi dari berbagai institusi Nasional dan Internasional.
Di antaranya Universitas Hasanuddin, IPB University, Universitas Gadjah Mada, Universitas Mataram, serta University of Hawai‘i.
Para peserta turut membahas perkembangan persiapan penyelenggaraan 21st IASC Biennial Conference yang dijadwalkan berlangsung di Sulawesi Selatan pada 21–25 Juni 2027.
Dosen Fakultas Kehutanan Unhas, Muhammad Alif K. Sahide, menjelaskan bahwa kajian mengenai the commons tidak hanya berfokus pada pengelolaan hutan.
Konsep tersebut mencakup berbagai sumber daya yang digunakan dan dikelola secara bersama oleh masyarakat, mulai dari kawasan mangrove, perairan pesisir, hingga aspek kesehatan dan kehidupan sosial.
“Karena itu, konferensi ini tidak berfokus pada satu bidang ilmu tertentu. Kami mempertemukan berbagai perspektif untuk memahami hubungan antara manusia, lingkungan, dan sumber daya yang mereka kelola bersama,” ujarnya.
Menurut Prof. Alif, Sulawesi Selatan dipandang sebagai lokasi strategis, karena memiliki keragaman ekosistem dan praktik pengelolaan sumber daya berbasis masyarakat yang menjadi perhatian komunitas akademik internasional.

Selain agenda konferensi, para peserta juga akan mengikuti kegiatan lapangan untuk mengamati langsung berbagai model pengelolaan sumber daya yang berkembang di daerah tersebut.
Sementara itu, Rektor Unhas, Jamaluddin Jompa, menyambut positif rencana penyelenggaraan konferensi internasional tersebut.
Ia menilai isu tata kelola sumber daya bersama semakin relevan di tengah tantangan perubahan iklim, degradasi lingkungan, serta tuntutan pembangunan berkelanjutan.
“Tema ini sangat relevan dengan berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat saat ini. Universitas memiliki peran penting dalam menghadirkan ilmu pengetahuan yang dapat menjembatani kebutuhan konservasi lingkungan dan kesejahteraan masyarakat,” kata Prof. Jamaluddin Jompa.
Ia juga menegaskan komitmen Unhas untuk mendukung penuh pelaksanaan konferensi sekaligus memperkuat keterlibatan dosen dan peneliti dalam berbagai agenda kolaborasi internasional yang akan dikembangkan menjelang pelaksanaan IASC 2027.
Bagi Unhas, penyelenggaraan IASC 2027 tidak hanya menjadi forum akademik berskala global, tetapi juga momentum memperkenalkan Sulawesi Selatan sebagai laboratorium pembelajaran dunia dalam pengelolaan sumber daya bersama.
Melalui kolaborasi lintas negara dan lintas disiplin ilmu, konferensi ini diharapkan dapat melahirkan berbagai solusi inovatif untuk menjawab tantangan lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Sebagai informasi, International Association for the Study of the Commons merupakan organisasi internasional yang berfokus pada studi tata kelola dan pengelolaan sumber daya milik bersama (the commons).
Konferensi dua tahunan yang digelar Unhas, menjadi salah satu forum akademik terkemuka yang mempertemukan para peneliti, pembuat kebijakan, dan praktisi dari berbagai Negara. (*)
Comment