MENITNEWS.COM, JAKARTA — PT Vale Indonesia Tbk (Vale), mengawali tahun 2026 dengan pencapaian finansial yang impresif.
Meski menghadapi tantangan operasional, Perseroan berhasil membukukan laba bersih sebesar AS43,6 juta pada triwulan pertama (1T26), melonjak tajam sekitar 85% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar AS21,8 juta.
Pertumbuhan laba yang signifikan ini ditopang oleh kenaikan harga jual rata-rata nikel matte serta disiplin manajemen biaya yang ketat, meskipun volume produksi mengalami penyesuaian karena pemeliharaan terencana.
Berdasarkan laporan keuangan interim per 31 Maret 2026, PT Vale mencatatkan pendapatan sebesar AS252,7 juta.
Angka ini meningkat dari AS206,5 juta pada kuartal pertama tahun 2025.
EBITDA Perseroan juga menunjukkan penguatan sebesar 29%, naik dari AS51,7 juta di 1T25 menjadi AS80,1 juta di 1T26.
CEO dan Presiden Direktur PT Vale Indonesia, Bernardus Irmanto, menyatakan bahwa margin positif ini merupakan buah dari disiplin keuangan di tengah kondisi lingkungan operasional yang tidak pasti.
“Kami tetap berkomitmen pada alokasi modal yang bijaksana dan manajemen likuiditas untuk menjaga ketahanan keuangan jangka panjang,” ujarnya dalam keterangan resminya, Kamis (30/4/2026).
Dari sisi operasional, PT Vale Indonesia memproduksi 13.620 metrik ton nikel dalam matte pada 1T26.
Penurunan volume dibandingkan kuartal sebelumnya (17.052 metrik ton) telah sesuai dengan rencana Perseroan, terutama dipengaruhi oleh kegiatan pembangunan kembali Furnace 3 yang dijadwalkan selesai pada semester pertama tahun ini.

Momentum penting juga tercapai pada awal tahun 2026 dengan dimulainya penjualan perdana bijih nikel limonit dari area Pomalaa.
Langkah ini menandai perluasan signifikan portofolio komersial PT Vale dan memperkuat diversifikasi pendapatan di masa depan.
Tercatat, volume penjualan bijih nikel limonit dari blok Pomalaa mencapai 88.983 wet metric ton (wmt).
Harga realisasi rata-rata nikel matte pada 1T26 berada di level AS14.213 per metrik ton, naik 15% dibandingkan kuartal keempat tahun 2025 (AS12.308).

Di sisi lain, biaya tunai per unit penjualan tetap kompetitif di angka AS$10.382 per ton.
Perseroan juga berhasil mengoptimalkan konsumsi bahan bakar, sejalan dengan penurunan harga rata-rata bahan bakar seperti HSFO, diesel, dan batu bara, yang mendukung agenda pengurangan emisi karbon berkelanjutan.
Pada 23 April 2026, PT Vale memperkuat strategi keuangan keberlanjutannya melalui penandatanganan Pinjaman Terkait Keberlanjutan (Sustainability-Linked Loan/SLL) senilai AS$750 juta.
Ini merupakan fasilitas SLL pertama di industri pertambangan Asia Tenggara.
Per 31 Maret 2026, posisi kas dan setara kas Perseroan berada pada angka yang sehat yakni AS$220,1 juta.
Dengan struktur permodalan yang kuat, PT Vale Indonesia optimis dapat melanjutkan proyek-proyek strategis di Bahodopi, Sorowako, dan Pomalaa untuk mencapai target produksi tahunan sebesar 67.645 ton nikel dalam matte. (*)
Comment