MENITNEWS.COM, JAKARTA — PT Vale Indonesia Tbk menampilkan berbagai inovasi pengelolaan sampah berkelanjutan yang telah diterapkan di Sorowako, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan, dalam ajang Indonesia International Environment Technology and Innovation Expo & Conference (Invirotech) 2026 yang berlangsung di Jakarta International Convention Center (JICC), 11–13 Juni 2026.
Mengusung tema “Green Solution Technology for Climate Action”, pameran yang diselenggarakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) tersebut menjadi wadah bagi PT Vale untuk berbagi pengalaman dan praktik terbaik dalam pengelolaan sampah terpadu yang telah dijalankan di wilayah operasional perusahaan.
Presiden Direktur dan CEO PT Vale Indonesia, Bernardus Irmanto, turut hadir menyambut Menteri Lingkungan Hidup/Kepala BPLH Moh Jumhur Hidayat di booth pameran yang ditempati bersama MIND ID dan sejumlah anggota holding pertambangan lainnya.
Partisipasi PT Vale dalam pameran tersebut tidak hanya memperkuat dukungan terhadap berbagai inisiatif lingkungan grup MIND ID, tetapi juga menjadi sarana memperkenalkan pendekatan pengelolaan sampah yang berfokus pada ekonomi sirkular dan pengurangan sampah sejak dari sumbernya.
Salah satu inovasi yang menjadi sorotan adalah pemanfaatan maggot Black Soldier Fly (BSF) untuk mengolah sampah organik. Program ini telah diterapkan di komunitas sekitar area operasi perusahaan di Sorowako sebagai solusi pengurangan limbah rumah tangga yang ramah lingkungan.
Selain itu, PT Vale juga menjalankan program Emberisasi, yaitu gerakan pemilahan sampah organik langsung dari rumah tangga yang diluncurkan pada Desember 2024. Program tersebut diawali dengan melibatkan 100 rumah karyawan di Perumahan Pontada dan berhasil mengumpulkan rata-rata 100 kilogram sampah organik setiap hari.
Melalui program tersebut, warga menempatkan ember berisi sisa makanan di depan rumah setiap malam untuk kemudian diangkut dan diolah oleh tim pengelola. Ke depan, konsep ini direncanakan akan diperluas kepada masyarakat umum di sekitar Sorowako.
Sampah yang terkumpul selanjutnya diproses melalui fasilitas pemilahan atau Segregation Plant yang mampu menangani 12 hingga 15 ton sampah organik dan anorganik setiap hari. Dari jumlah tersebut, sekitar 500 hingga 700 kilogram diolah menjadi kompos, sementara sisanya dimanfaatkan sebagai pakan maggot BSF yang mampu mengurai sampah organik secara efektif.

Maggot yang telah berkembang kemudian dimanfaatkan sebagai pakan ikan, sehingga menciptakan siklus ekonomi sirkular yang memberikan nilai tambah dari limbah yang sebelumnya tidak termanfaatkan.
Sementara itu, sampah anorganik bernilai ekonomis seperti plastik, botol kaca, dan besi bekas disalurkan ke bank sampah serta Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Total donasi sampah terpilah yang disalurkan mencapai empat ton per tahun.
Untuk mendukung keberlangsungan sistem tersebut, PT Vale mengalokasikan anggaran pengelolaan sampah lebih dari Rp700 juta setiap tahunnya.
Bernardus Irmanto menegaskan bahwa inovasi yang ditampilkan di Jakarta merupakan gambaran nyata dari sistem pengelolaan sampah yang telah berjalan dan memberikan manfaat di Sorowako.
“Apa yang kami bawa ke Jakarta bukan sekadar konsep, melainkan sesuatu yang nyata terjadi di Sorowako. Dari rumah karyawan, fasilitas pengomposan, hingga warung yang memasak menggunakan gas hasil pengolahan sampah. Kami percaya perusahaan tambang bisa dan harus menjadi bagian dari solusi lingkungan,” ujar Bernardus.
Menurutnya, keberhasilan program tersebut lahir dari kolaborasi yang melibatkan karyawan, masyarakat, dan pemerintah daerah dalam membangun ekosistem pengelolaan sampah yang terpadu.
Partisipasi PT Vale dalam Invirotech 2026 juga sejalan dengan agenda Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, Indah) serta visi Indonesia Emas 2045 yang menjadi bagian dari Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.
Sebagai salah satu perusahaan tambang nikel terbesar di Indonesia, PT Vale Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus mengembangkan praktik pertambangan berkelanjutan, termasuk mewujudkan target nol sampah ke tempat pemrosesan akhir (TPA) pada tahun 2050. (*)
Comment