Unhas Jadi Laboratorium Gizi Nasional, Perkuat Program Makan Bergizi Gratis Lewat Riset Lintas Disiplin

ads
ads
ads

MENITNEWS.COM, ​MAKASSAR — Program Makan Bergizi Gratis (MBG), kini tidak lagi dipandang sekadar intervensi sosial pemerintah, melainkan sebuah instrumen strategis berbasis sains.

Hal ini mengemuka dalam kegiatan “Goes to Campus” yang diinisiasi Badan Gizi Nasional di Universitas Hasanuddin (Unhas), Selasa (5/5/2026).

​Badan Gizi Nasional mendorong perguruan tinggi untuk mengambil peran sentral sebagai pusat kajian, inovasi, dan implementasi program MBG.

Melalui kolaborasi ini, Unhas diharapkan menjadi “laboratorium hidup” yang menyempurnakan program melalui pendekatan ilmiah.

​Plt Deputi Bidang Promosi dan Kerja Sama Badan Gizi Nasional, Dr. Gunalan, AP., M.Si, menegaskan bahwa, masukan akademik dari sivitas akademika sangat krusial.

Menurutnya, MBG adalah program dinamis yang terus memerlukan evaluasi lapangan dan perspektif ilmiah.

​”MBG bukan program statis. Ia terus diperbaiki melalui evidence-based policy. Peran kampus sangat penting dalam memberikan perspektif ilmiah dan solusi inovatif guna memastikan efektivitas program,” ujar Dr. Gunalan dalam paparannya di Kampus Unhas Tamalanrea.

​Rektor Universitas Hasanuddin, Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, M.Sc. (Prof. JJ), menyatakan komitmen penuhnya terhadap program ini.

Ia menekankan bahwa MBG adalah tanggung jawab lintas disiplin yang melibatkan seluruh fakultas di Unhas, bukan hanya bidang kesehatan semata.

​”Ini program yang sangat bermakna. Sayang sekali jika kampus hanya menonton tanpa memberi pemikiran dan contoh konkret. MBG harus menjadi gerakan bersama,” tegas Rektor Unhas, Prof. JJ.

​Sebagai langkah nyata, Unhas telah menyiapkan ekosistem pendukung dari hulu ke hilir:

​Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM): Mengawal aspek standar kesehatan dan pemenuhan gizi.

​Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP): Menghadirkan inovasi pengolahan ikan yang bergizi tinggi namun tetap sesuai selera generasi muda.

​Sektor Peternakan: Unhas telah mengembangkan kapasitas produksi mandiri, termasuk penyediaan ayam berkualitas untuk mendukung rantai pasok program.

​Sementara itu, Wakil Kepala Badan Gizi Nasional Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi, Nanik S. Deyang, mengapresiasi kesiapan Unhas.

Ia menilai keterlibatan universitas mengubah MBG menjadi sebuah ekosistem pembangunan yang komprehensif.

​”Program ini luar biasa karena melibatkan seluruh fakultas. Ini bukan hanya intervensi gizi, tetapi sebuah ekosistem pembangunan nasional yang melibatkan pemerintah, akademisi, industri, masyarakat, dan media (penta helix),” ungkap Nanik.

​Sebagai bentuk komitmen lanjutan, Unhas akan membentuk kelompok studi interdisiplin.

Kelompok ini bertugas memperkuat landasan akademik dan melahirkan ide-ide konstruktif demi menyempurnakan mandat strategis nasional tersebut.

​Melalui sinergi ini, MBG Unhas diharapkan menjadi motor transformasi nasional yang mencetak generasi sehat, produktif, dan berdaya saing global berbasis riset dan inovasi. (*)

Comment